Warna Warni Di Desa Pelangi Kota Taichung

 

By Petrus Loo , www.klayapan.com

Sekitar 20 menit naik taxi dari pusat kota Taichung, Taiwan. Bisa juga menggunakan bus kalau punya waktu. Tapi buat kami yang baru pertama kali berada di Taiwan, apalagi di kota Taichung dan berburu dengan waktu, taxi merupakan alternatif tercepat. Ingat, di Taiwan tidak ada taxi online (Grab atau Uber), yang ada hanya taxi meter konvensional. Kabarnya pemerintah setempat belum mengizinkan taxi online beroperasi di negara tersebut.

Seperti biasa, sebelum sampai ke tempat tujuan saya sudah melakukan survey dan pencarian melalui mbah google. Sehingga kita tidak buta akan lokasi yang akan dituju. Dan tentunya kita punya gambaran seperti apa lokasi yang akan dikunjungi nantinya. Lokasi yang dituju adalah Rainbow Village diartikan kira-kira “Desa Pelangi” atau Chai Hong Juan dalam bahasa lokal.

Berhubung hari ini kebetulan hari makan Bak Cang (orang sana menyebutnya Tuan Wu Jie), di Taiwan libur nasional (Long weekend). Bertepatan lagi jumat sabtu minggu. Tentu saja daerah wisata akan menjadi sasaran pengunjung. Ketika tiba dilokasi sudah ramai pengunjung dengan bus wisata maupun kendaraaan pribadi. Pelataran parkir yang cukup luas sudah penuh dengan kendaraan. Masih untung, pemgemudi taxinya sangat baik. Bersedia mengantarkan kami ke  lokasi dan menunggu kami hingga selesai. Katanya tempat yang kita kunjungi itu tidak luas, sebentar saja selesai. Dan katanya kakek Huang (pelukis dan pemilik kampung pelangi) ada di dalam biasanya.

Dinamakan rainbow  village (Chai Hong Juan), karena rumahnya lama telah dilukis oleh seorang tua veteran perang. Lukisan dengan ciri khas warna warni yang kental lingkaran, mata, bulatan dll. Veteran perang tahun 1940an, ketika Chiang Kai Shek (bapak pendiri Taiwan yang nasionalis) kalah perang saudara dengan komunis Tiongkok Daratan, membawa 2juta lebih tentara dan keluarganya pindah dari dari Tiongkok Daratan ke pulau Faumosa. Awalnya merupakan perkampungan sementara, karena akan pulang kembali, namun karena faktor politik, akhirnya menjadi permanen menetap di pulau Formosa yang sekarang disebut Taiwan.

Perkampungan yang dibangun saat itu sangatlah sederhana, konstruksi yang jelek dan kecil. Pada perkembangan berikutnya menjadi tanah negara dan bermasalah dikemudian hari. Bertahun – tahun kemudian, desa ini mulailah ditinggalkan orang dan menjadi kumuh. Daerah sekitarnya telah berkembang pesat menjadi properti yang modern. Pemerintah mulai meratakan desa – desa lama menjadi bagunan apartemen di tahun 90an. Hal ini juga karena perkembangan dan kemajuan negara itu.

Beberapa diantaranya melakukan protes akan penghancuran rumah mereka. Salah satunya yang menjadi terkenal adalah Huan Yong Fu (87 tahun) yang melakukan protes atas peruntuhan rumahnya. Kisah desa Pelangi di Taichung ini menjadi terkenal di seluruh negeri dan dianggap sebuah demonstrasi yang efektif.

Kakek Huang (Huang Yong Fu) adalah seorang veteran militer yang lahir di Hong Kong dan berperang melawan komunis. Setelah tinggal di Taiwan selama lebih dari 60 tahun, pemerintah kota Taichung memutuskan sudah waktunya desa dia  tinggalkan untuk dirobohkan. Huang yang sekarang disebut orang “Kakek Pelangi”, tidak melawan pemerintah secara formal, tapi dengan melukis. Sebagai seniman otodidak, dia melukis rumah warna warni diseluruh rumahnya, gerbang dan jalan setapak. Ia menggunakan warna yang sangat terang dan melukis sosok yang sangat acak dan imaginatif, termasuk tumbuhan, hewan, monster, selebriti dan pahlawan budaya tradisional.

Kebetulan Desa itu berada di sebelah universitas Lin Fung yang penuh dengan kaum pelajar, dan siswa – siswa disana memperhatikan apa yang dia lakukan dan mereka mempromosikan hasil karyanya melalui media sosial. Dengan kemajuan jaman foto – foto disebar di media sosial, sehingga menjadi viral dan dikenal semua orang.]

Dengan cepat, desa pelangi menjadi tujuan wisata banyak orang ketika dia masih sibuk melukis. Para wisatawan menawarkan berbagai donasi untuk mendukung seniman yang hampir mencapai usia 90 an. Protes yang damai mendapat simpati dari seluruh daerah dengan banyaknya pengiriman email kepada walikota Taichung. Termasuk keluhan atas niat pemerintah untuk meruntuhkan desa tersebut. Permintaan penagguhan berdatangan dari penjuru negri.

Perjuangan seorang kakek membuahkan hasil, sampai saat ini desa pelangi masih tetap ada dan bahkan mulai direstorasi atas bangunan yang sudah tua. Pada saat kami disana, sebagian bangunan tidak bisa masuk, karena atapnya dalam perbaikan. Dan terlihat kontras sebuah  perkampungan lama berada ditengah ditengah kota.

Desa Pelangi masih ada sampai sekarang karena usaha dan kreativitas kakek Huang. Dilokasi juga ada jual souvenir untuk donasi dan kakek Huang melayani tanda tangan, layaknya seorang selebritis. Dan juga bersedia berfoto ria bersama para pengunjungnya.

2 thoughts on “Warna Warni Di Desa Pelangi Kota Taichung

  • December 13, 2018 at 9:42 am
    Permalink

    indah banget ya, jadi pengen liburan ke sana. berapa harga masuknya min?

    Reply
  • April 30, 2019 at 3:02 pm
    Permalink

    Artikel yang sangat bagus …
    Ulasan informasi yang disampaikan sangat bermanfaat …
    Terimakasih informasinya min …
    Ditunggu artikel selanjutnya …
    Salam kenal …

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *